The Myth of Sishypus
Beberapa kali kita temukan bahwa ada orang yang rela mati karena menaati gagasan yang ia percayai, seperti halnya para martir. Namun itu masih kalah jauh jumlahnya dengan orang yang mati bunuh diri, yang karena merasa hidupnya tidak berarti dan tidak layak dijalani, memilih memutus urat penderitaannya atau menggantung kehidupannya di atas seutas tali.
Betapa pun manusia berusaha memenuhi hasrat dan keinginannya, pada akhirnya ia akan bertemu dengan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia harapkan. Perjumpaan dengan absurditas semacam ini, akan menimbulkan perasaan keterasingan, kumuakkan, kebencian dan barangkali penolakan akan hidup.
Sisifus adalah simbol manusia yang memberontak dari absurditas.
Hidup kita dan hukuman Sisifus sama sekali tidak berbeda, keduanya tidak berarti dan sia-sia. Keduanya adalah kutukan dan hukuman. Batu besar yang didorong ke atas gunung adalah metafora dari kecenderungan manusia, kerinduan manusia akan sesuatu yang ideal. Dan batu besar yang terus menerus menggelinding ke bawah adalah kenyataan pahit yang disajikan dunia.
Kita yang menghasrati kebahagiaan dan dunia yang selalu menyajikan penderitaan. Kita yang selalu menginginkan kebenaran dan dunia yang menampilkan ketidakpastian. Hasrat kita akan arti dan ketiadaan makna itu sendiri. Kita yang mendambakan kehidupan dan dunia yang menghadirkan kematian sebagai kepastian.
Tapi, kita harus berupaya untuk mencari sesuatu yang barangkali ideal dan tamparan menyakitkan dari kenyataan yang sama sekali tidak kita harapkan, cukup untuk mengisi kekosongan dan kesia-siaan eksistensi kita. Kita harus membayangkan diri kita bahagia, kiranya itulah yang ingin kita petik dari Alegori mite Sisifus.

Tidak ada komentar
Posting Komentar