Featured Post

Cantik tapi Tunduk? Sebuah Gugatan terhadap Mitos Kecantikan

Cantik tapi Tunduk? Sebuah Gugatan terhadap Mitos Kecantikan

 

Kecantikan, Kebebasan, dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri

(Sebuah Refleksi Eksistensial)

    Saya menaruh kecurigaan yang mendalam terhadap apa yang selama ini disebut sebagai “kecantikan”. Riasan wajah, sepatu hak tinggi, bedah estetika, dan berbagai tuntutan penampilan bukan sekadar persoalan selera, melainkan sistem makna yang bekerja diam-diam mengatur bagaimana seseorang—terutama perempuan—harus hadir di dunia. Atas nama cantik, tubuh dipaksa patuh, waktu dikorbankan, dan identitas dipoles agar sesuai dengan tatapan sosial.

    Jean-Paul Sartre dalam L’Être et le Néant menegaskan bahwa “existence precedes essence”—manusia tidak dilahirkan dengan hakikat yang sudah ditentukan, melainkan membentuk dirinya melalui pilihan-pilihan bebas. Namun kebebasan ini sering kali terasa berat. Maka manusia kerap melarikan diri ke dalam apa yang oleh Sartre disebut mauvaise foi (bad faith): keadaan ketika seseorang berpura-pura memilih, padahal sesungguhnya tunduk pada peran yang disediakan masyarakat.

    Dalam konteks kecantikan, bad faith tampak ketika perempuan berkata, “Aku berdandan karena ingin,” padahal keinginan itu telah lama dibentuk oleh ketakutan: takut dianggap tidak menarik, takut tidak dicintai, takut tidak diakui keberadaannya. Pilihan yang tampak bebas itu sejatinya adalah kepatuhan yang telah dinormalisasi.

    Simone de Beauvoir, dalam Le Deuxième Sexe, menulis dengan tajam bahwa perempuan sejak awal dibentuk sebagai “the Other”—bukan subjek yang menentukan makna, melainkan objek yang dinilai. Standar kecantikan adalah salah satu cara paling efektif untuk mempertahankan posisi ini. Tubuh perempuan dijadikan proyek yang tak pernah selesai, selalu kurang, selalu perlu diperbaiki.

    Menariknya, kecantikan menjadi semakin problematis ketika berjumpa dengan kecerdasan. Perempuan yang cantik sekaligus berpikir sering dianggap mengganggu tatanan. Ia tidak mudah dikendalikan, tidak puas hanya menjadi objek. Dunia tampaknya lebih nyaman dengan kecantikan yang diam—indah, tetapi tidak bertanya.

    Di titik inilah saya teringat pada pernyataan Nawwal: bahwa kecantikan sejati terletak pada keberanian untuk tampil natural, kreatif, dan berbicara lurus pada hal-hal yang substansial. Pernyataan ini bukan sekadar opini estetika, melainkan sikap eksistensial. Menjadi natural berarti menolak direduksi menjadi objek tatapan. Menjadi jujur berarti mengklaim diri sebagai subjek yang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

    Ketika Nawwal ditanya mengapa ia tidak melakukan bedah kecantikan, jawabannya sederhana namun radikal: ia bangga dengan keriput-keriputnya. Setiap kerutan adalah jejak waktu dan pengalaman hidup. Dalam semangat Albert Camus, ini adalah bentuk révolte—pemberontakan eksistensial. Dalam Le Mythe de Sisyphe, Camus menegaskan bahwa pemberontakan bukanlah penolakan terhadap hidup, melainkan penerimaan yang sadar terhadap absurditasnya.

    Menjadi tua, menjadi berkerut, menjadi tidak sempurna—semua itu adalah bagian dari absurditas eksistensi. Menolak kenyataan tersebut lewat ilusi kesempurnaan justru merupakan bentuk pelarian. Sebaliknya, menerima usia dan sejarah diri adalah tindakan keberanian.

    Usia, dalam perspektif eksistensial, bukanlah aib, melainkan bukti keberadaan. Menyembunyikannya berarti menolak narasi hidup sendiri. Dan ketika seseorang berdamai dengan narasi itu, ia tidak lagi membutuhkan legitimasi dari standar kecantikan apa pun. Ia ada—dan itu sudah cukup.

    Barangkali, kecantikan yang paling menakutkan bagi dunia modern adalah kecantikan yang tidak meminta pengakuan. Kecantikan yang lahir dari kesadaran, kebebasan, dan kejujuran. Kecantikan yang tidak bisa dikomodifikasi, tidak bisa distandarisasi, dan tidak bisa dipaksakan.

    Sebagaimana manusia eksistensial yang digambarkan Sartre, seseorang menjadi dirinya sendiri bukan ketika ia patuh, melainkan ketika ia berani memikul konsekuensi dari kebebasannya. Dan mungkin, di situlah letak kecantikan yang paling autentik: keberanian untuk menjadi diri sendiri, sepenuhnya—dengan segala kerutan, keterbatasan, dan pilihan sadar yang kita tanggung sendiri.

Ahmad Rabbani
Mari berpetualang!

Tidak ada komentar